-->

Pengertian Puasa Arafah Idul Adha 2018 beserta Dalil Keutamaannya

Pengertian Puasa Arafah Idul Adha 2018 beserta Dalil Keutamaannya - Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak menjalankan ibadah haji. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa-puasa lainnya. Keutamaan puasa Arafah ini seperti diriwayatkan dari Abu Qatadah Rahimahullah.

Ibadah Haji ini menjadi istimewa karena ia merupakan momen pertemuan akbar bagi berjuta-juta umat Islam di seluruh dunia di suatu tempat yang sama, pada waktu yang sama, dengan berbusana yang sama dan untuk kerinduan yang sama dan memenuhi panggilan Allah untuk beribadah. Bagi umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji, maka pada waktu menjalankan puncak ibadah haji yaitu wukuf yaitu tanggal 9 Dzulhijjah maka kita disunnahkan untuk menjalankan puasa arafah yang di tanah air dari tanggal 8-9. Bahkan salah satu keutamaan 10 hari pertama di bulan dzulhijjah adalah dengan menjalankan puasa sunnah.

Selain ibadah haji, terdapat pula hal lain yang membuat bulan ini istimewa, yaitu adanya hari Idul Adha atau hari raya qurban. Yaitu hari yang dijadikan Allah untuk membesarkan nama-Nya sekaligus mengenang sebuah peristiwa fenomenal sepanjang sejarah umat manusia yakni kerelaan seorang Ibrahim as. ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih anak kesayangannya demi ketaatan kepada Allah Ta'ala. Peristiwa mana akhirnya dijadikan titik awal pensyariatan ibadah kurban yang dilakukan pada hari ke 10, 11, 12 dan 13 bulan tersebut. Mengenai hari qurban silakan sahabat membaca tentang bagaimana memilih dan menentukan pilihan dalam hewan kurban yang masuk dalam bagian Syarat Kriteria Hewan Qurban menurut sunnah Rasulullah SAW.

Pengertian Puasa Arafah Idul Adha 2018 beserta Dalil Keutamaannya

Dikatakan hadits ini dhoif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dhoif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum. Lagi pula hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa. Ibnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

"Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid)." (HR Bukhari).

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.(HR Bukhari Muslim).

Puasa Sunat Terbagi Menjadi 3 Macam :

1. Tahunan (berulang dengan berulangnya tahun), yaitu puasa ‘Arofah, ‘Asyuro, Tasyu’a dan 6 harinya bulan Syawal.
2. Bulanan (berulang dengan berulangnya bulan), yaitu puasa hari-hari putih (ayyamul bid) tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan.
3. Mingguan (berulang dengan berulangnya minggu), yaitu puasa hari Senin dan Kamis.

- Puasa ‘Arafah (9 Dzulhijjah) disunatkan bagi selain orang yang sedang berhaji dan musafir. Bagi orang yang sedang berhaji disunatkan tidak berpuasa pada hari ‘Arofah.
- Puasa ‘Asyuro (10 Muharrom) disunatkan disambung dengan puasa Tasyu’a (9 Muharrom) untuk membedakan diri dari kaum yahudi.
- Puasa 6 harinya bulan Syawal diutamakan disambung langsung setelah hari ‘Ied ( tanggal 2 – 7 ) dan berturut-turut.
- Puasa genap setahun penuh selain dua hari raya id dan hari-hari Tasyriq itu hukumnya boleh bagi orang yang tidak mendapat madhorot (bahaya) dengan puasa itu
- Puasa ndawud, sehari puasa sehari tidak (meniru nabi Dawud) disunatkan berdasarkan riwayat sabda nabi saw “sebaik-baik puasa adalah puasa saudaraku, Dawud”.

Fadhilah Puasa Arafah :
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 bulan Dzulhijah pada kalender Islam Qamariyah/Hijriyah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang tidak menjalankan ibadah haji.

Kesunnahan puasa Arafah tidak didasarkan adanya wukuf di Arafah oleh jamaah haji, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia tidak sama dengan di Saudi Arabia yang hanya berlainan waktu 4-5 jam. Ini tentu berbeda dengan kelompok umat Islam yang menghendaki adanya ‘rukyat global’, atau kelompok yang ingin mendirikan khilafah islamiyah, dimana penanggalan Islam disamaratakan seluruh dunia, dan Saudi Arabia menjadi acuan utamanya.

Keinginan menyamaratakan penanggalan Islam itu sangat bagus dalam rangka menyatukan hari raya umat Islam, namun menurut ahli falak, keinginan ini tidak sesuai dengan kehendak alam atau prinsip-prinsip keilmuan. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit yang dilakukan untuk menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah berlaku secara nasional, yakni rukyat yang diselenggarakan di dalam negeri masing-masing dan berlaku satu wilayah hukum. Ini juga berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad SAW sendiri.

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya :
1. Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang.

2. Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun.

3. Insyaallah dibebaskan dari api neraka.

Dalil yang tegas tentang keutamaan puasa arafah ini adalah hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa Arafah dihitung di sisi Allah sebagai menghapus (dosa) tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya”. (HR. Muslim)

Demikian beberapa penjelasan mengenai puasa arafah. Dengan adanya puasa arafah ini kita terus berlomba-lomba untuk mencari kebaikan dalam hidup kita. Melakukan hal yang disukai oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita selalu dalam perlindungan Allah untuk tetap berada di jalan yang benar, jangan sampai kita terjebak dalam perbuatan yang tidak baik. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Aamiin..